Beranda » Mau Berguru Dinasti Politik, ke Banten Saja

Mau Berguru Dinasti Politik, ke Banten Saja

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Ibarat suami-istri, pasangangan Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno, terbilang baru, satu setengah tahun. Keduanya dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Banten, 11 Januari 2012. Kendati tergolong masih pasangan muda, keduanya sudah cekcok.

Bahkan pemenang Pilgub Banten yang memperoleh suara terbanyak 55,46 persen dalam pemilihan kepada daerah 2011, kini di ambang perpecahan. Hubungan kerja antara Ratu Atut Choisyah selaku Gubernur dengan Wakil Gubernur Rano Karno dikabarkan retak. Keretakan kedua orang berkuasa di Banten dipicu pembatasan dan pengekangan Atut terhadap Rano Karno, artis beken tahun 1990-an.

Si Doel, sebutan untuk Rano Karno karena film sinetron terkenal Si Doeal Anak Betawi yang diperankannya, pun bermaksud mengundurkan diri dari jabatannya. Kondisi ini mengungkap kembali cerita lama akan dinasti politik Ratu Atut di Banten yang dibangun keluarga Atut.

"Kalau bicara dinasti politik yang paling sempurna yang ada di Banten. Jadi kalau mau berguru soal dinasti politik ke Banten saja," kata anggota DPD RI dari Banten, Ahmad Subadri dalam diskusi DPD dengan tema "Fenomena Politik Dinasti" di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/7).

Atut sebenarnya sudah memasuki periode ketiga menjadi gubernur. Perempuan kelahiran di Kampung Gumulung, Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten pada 16 Mei 1962 adalah Gubernur wanita pertama di Indonesia. Ia maju bersama Djoko Munandar dalam pemilihan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten periode 2002-2007.

Namun pada tahun 2006, Djoko terjerat kasus korupsi. Ia dicopot dari jabatannya, dan Ratu Atut ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Banten. Atut menjabat kurang dari separuh periode jabatan, sehingga tidak dianggap satu periode.

Pada Pilgub 2006, Ratu Atut kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Banten. Ia berdampingan bersama Mohammad Masduki sebagai calon wakilnya. Mereka didukung oleh Partai Golkar, PDI-P, PBR, PBB, PDS, Patriot, dan PKPB. Pada Pilgub 2011, ia berpasangan dengan Rano Karno.

Atut Chosiyah baru-baru ini muncul lagi menjadi buah bibir tentang dinasti keluarga. Dinasti politik keluarga ini dibangun sejak lama, seperti mencengkeram kekuatan pemerintahan di Banten. Keluarga Atut mendominasi peta politik, eksekutif maupun legislatif di Banten dan daerah kabupaten/kota di provinsi itu.
Hal ini terlihat dari daftar caleg sementara 2014 yang disetor partai Golkar ke KPU.

Anak pertama Atut, Andhika Hazrumy, kini berstatus anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar. Dia terdaftar nomor urut 1 di daerah pemilihan Banten 1 (Lebak dan Pandeglang).

Adiknya, Andiara Aprilia Hikmat calon DPD urutan ke-9. Istri Andhika Hazrumy, Adde Rosi Khoerunnisa menjabat wakil ketua DPRD Kota Serang, terdaftar sebagai caleg DPRD Provinsi Banten nomor urut 1 dari Golkar.

Suami Andiara Aprilia Hikmat, Tanto Warbono Arban, caleg DPRD Provinsi Banten dari dapil Kota Tangsel. Semua anak dan menantu Atut mendapat nomor urut 1 di Partai Golkar.

Ada pun suami Atut, Hikmat Tomet, kembali mencalonkan diri ke DPR dengan nomor urut 1 dari dapil Banten 2 (Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon). Sekarang, Ketua Partai Golkar Banten ini merupakan anggota DPR dari Komisi V DPR.

Kemudian, kakak kandung Atut, Ratu Tatu Chasanah kini menjabat Wakil Bupati Serang. Kakak tiri Atut, Wali Kota Serang Tb Haerul Jaman. Kakak Ipar Atut Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, dan anak tiri Wakil Bupati Pandeglang Heryani.

Menurut Ahmad, kondisi politik dinasti di Banten seperti ini tampaknya kurang mendapat perhatian warga masyarakat Banten.

"Buat mereka bupati baik atau tidak itu biasa saja. Toh kepentingannya dengan pemerintah hanya pada saat mengurus KTP, praktis nggak ada hubungan lain dengan pemerintah. Paling adapun kebutuhan pun dengan uang beres," ujar bekas calon Wali Kota Tangerang ini.

Dia menegaskan politik dinasti berbahaya sebab menggunakan uang dan alat negara. "Bagaimana membangun kekuatan ini bisa didapat dengan kapitalisasi APBN atau APBD. Adanya otonom baru juga untuk mengembangkan politik dinasti.

Baca Juga:

Laporan Rano Karno Mundur Belum Diterima Sekjen PDIP

Rano Karno Picu Usulan Penghapusan Jabatan Wakil Gubernur

PAN Tak Akan Campuri Persoalan Ratu Atut-Rano Karno


http://id.berita.yahoo.com/mau-berguru-dinasti-politik-ke-banten-saja-011325998.html